Gara-gara Teknologi

“…Aliran konten di berbagai platform, kerja sama antara berbagai industri media, dan perilaku migrasi khalayak media.” – Henry Jenkins.

Dalam perkembangan teknologi, telepon seluler tentunya tidak dapat dipisahkan. Telepon seluler sendiri dalam dunia konvergensi media memiliki peran yang cukup signifikan dalam membentuk andil masyarakat di media. Beberapa manafaat telepon seluler biasanya dalam keadaan genting, diantaranya adalah:

  1. Mendokumentasikan dan melaporkan peristiwa kebencanaan.
  2. Berkontribusi terhadap peliputan berita.
  3. Menghindari sensor.
  4. Sudut pandang dari ‘saksi mata’, salah satunya indvidu yang menggunakan ponsel tersebut.

Berhubungan dengan ponsel, media sosial juga hadir dalam perkembangan konvergensi media. Media sosial sebagai media baru.

“The notion of ‘social media’ is associated with new digital media phenomena such as blogs, social network sites, location-based services, microblogs, photo- and video-sharing sites, etc., in which ordinary users (i.e. not only media professionals) can communicate with each other and create and share content with others online through their personal networked computers and digital mobile devices.” (boyd, 2008: 92; Lüders, 2008)

Dengan adanya media sosial ini, maka tercipta pula ruang publik yang memiliki sebuah nilai, selain itu dengan adanya sosial media juga mengaburkan batasan antara produser dan konsumer.

Yang berhubngan dengan ponsel dan juga media sosial, yaitu ruang publik (public sphare) sendiri merupakan domain dari kehidupan sosial di masyarakat, dimana opini publik terbentuk, tanpa ada paksaan untuk mengekspresikan dan mempublikasikan pandangan mereka. Ruang publik ini biasanya terbentuk di platform-platform yang terhubung dengan internet. Contoh: di Indonesia sendiri, banyak ruang publik yang tercipta dari platform (Kaskus), mereka yang berpartisipasi di dalam nya tidak memiliki paksaan untuk berpartisipasi.

kaskus
kaskus.com/forum

Saat ini user lebih tepat disebut dengan prosumer (produser dan konsumer) ketimbang hanya audience, karena pada saat ini, pengelompokan tidak sesempit itu. Istilah prosumer sendiri dikenalkan oleh Marshall McLuhan, menandakan bahwa seseorang dapat menjadi produser dan konsumer dalam satu waktu, dan seringkali terjadi ketika user telah terkoneksi internet.

Dalam Bab ini, contoh lain dari prosumer adala citizen journalism, dimana setiap pengguna media yang meliput suatu peristiwa dengan gawai pribadi, kemudian menyebarkan liputan tersebut lewat teknologi internet ke ruang publik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam penggunaan teknologi maka akan ada masalah-masalah digital yang dihadapi, kali ini kami memaparkan masalah-masalah tersebut melalui contoh kasus yang ada, yaitu SARS, The Sumatra-Andaman Tsunami, dan London Bombings.

 

  1. SARS

 

040503aLnsars
sumber gambar: https://www.liputan6.com/global/read/54045/korban-tewas-sars-di-cina-menjadi-190

Sebelum menyebutkan masalah yang ada, saya ingin memaparkan terlebih dahulu. Kasus SARS ini pertama kali ditemukan di CIna, tepatnya provinsi Guangdong pada 16 November 2012. Pemerintah setempat menyebutnya ‘atypical pneumonia’. Ketika terjadi kasus ini, pemerintah melajarang pejabat WHO untuk melakukan investigasi di Guangdong, pemerintah sengaja membatasi pemberitaan mengenai virus SARS tersebut. Alasan paling sederhananya karena jika pemberitaan mengenai hal tersebut dapat mempengaruhi investasi yang diterima dari negara luar. Dengan adanya tindakan pemerintah yang membatasi pemberitaan, maka masyarakat Cina sadar dan memulai pemberitaan dari individu terkait kondisi Guangdong ke dunia luar.

 

  1. The Sumatra-Andaman Tsunami

 

Terjadi pada 26 Desember 2004, pukul 00.59 UTC, dengan 9 magnitude, dan ketinggian gelombang 30 hingga 35 meter, pusatnya beradda di Samudra Hindia. Puku; 01.15 UTS: Tsunami menghantam Sumatra, Indonesia dan Nicobar, India. Kemudian menyusul gelombang menyebar ke Thailand, Sri Lanka, Maldives, dan Afrika Timur. Pada kejadian ini disebut juga sebagai ‘communication disaster’, mengapa demikian karena adanya komunikasi yang tidak berjalan disebabkan oleh faktor teknologi dan faktor manusia.

Dalam kejadian ini, hadir pula tipe pengguna baru yaitu prosumer.

 

  1. London Bombings
77-tavistocksquare
sumber gambar: https://theburningbloggerofbedlam.wordpress.com/2015/07/07/the-77-london-bombings-everything-the-media-wont-tell-you/

Terjadi pada 25 Juli 2005. Kejadian ini melibatkan 4 orang pelaku, 3 diantaranya melakukan peledakan bom di kereta bawah tanah London pukul 08.50 BST, 1 lain nya melakukan pemboman di dalam bus tingkat pukul 09.47 BST. Aksi pemboman ini dikenal dengan bom bunuh diri. Dengan teknologi yang ada, polisi setempat dengan mudah mengidentifikasi pelaku pemboman. Banyak foto yang beredar di internet mengenai kejadian ini, baik ketika kejadian berlangsung maupun setelah kejadian. Ketika kejadian ini, keamanan setempat meminta adanya penutupan jaringan publik pada Aldgate area atau pusat kota London.

Referensi:

  • Gordon, Janey (2007), The Mobile Phone and the Public Sphere: Mobile Phone Usage in Three Critical
    Situations, Convergence 13/3 Pages: 307-319.
  • Anja Bechmann, (2012), Mapping actor roles in social media: Different perspectives on value creation
    in theories of user participation, (nms.sagepub.com)

 

Ajeng Anindira Putri
1706051180

#SPIK600087

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai
%d blogger menyukai ini: